Program penyelenggaraan ibadah Haji di Indonesia secara resmi dikelola oleh Kementrian AgamaRepublik Indonesia (KEMENAG RI), yaitu Haji Reguler maupun Haji Khusus/Plus.

Penyelenggara Haji adalah Kementrian Agama dan PIHK yang Resmi. Oleh karena itu jika ada travel yang tidak terdaftar dan menyelenggarakan Haji maka itu illegal. “Perjalanan ke luar negeri untuk jalan-jalan atau urusan bisnis berbeda dengan perjalanan naik Haji ke Tanah Suci.

Jamaah Haji yang diberangkatkan oleh travel yang tidak resmi biasanya menggunakan visa non kuota ini. Terkadang ada jamaah non-kuota yang samapi Jeddah, tapi tak bias mauk Mekkah.

Seiring sangat tingginya minat masyarakat menunaikan Ibadah Haji, daftar Antrian tunggu  untuk Haji Reguler  2041 (tiap provinsi berbeda tahunnya). Sedangkan untuk daftar antrian tunggu Haji Khusus sudah sampai tahun 2022.

Tentunya hal ini menjadi dilemma yang cukup serius bagi sebagian kalangan yang ingin melaksanakan Ibadah Haji tanpa ikut antrian daftar tunggu.

Ada beberapa jenis Berhaji di luar Pemerintah yang dilakukan oleh sebagian kalangan, berikut contohnya :

Haji Khusus Non Kuota Ilegal Murni

Saat Bulan Ramadhan, jamaah daftar menunaikan Ibadah Umroh dengan Visa Umroh yang masa berlakunya hanya 1 bulan. Saat masa berlaku Visa Umroh habis, jamaah tersebut sebgaja tidak pulang dengan menghanguskan tiket pesawat kepulangannya. Jamaah etrsebut bersembunyi di balik gunung-gunung atau di rumah koleganya yang sudah mukim di Mekkah sampai musim Haji tiba. Setelah Iabadah Hajinya terlaksana, jamaah tersebut menyerahkan diri ke Pemerintah Kerajaan Arab Saudi meminta untuk di deportasi  ke Tanah Air. Haji seperti inilah yang di maksud Haji Sandal Jepit, Haji Ilegal, karena tidak punya Visa Haji.

Haji Khusus Non Kuota Ilegal Visa Aspal

Kasus Haji yang ini nasibnya tragis, biasanya jamaah tersebut di janjikan berangkat Haji tanpa antri, tapi ternyata visanya asli tapi bukan Visa Haji melainkan Visa kerja TKI, bias juga visanya Visa Haji tapi setelah sampai tiba di Bandara Jeddah ternyata di cek oleh petugas imigrasi Saudi visanya palsu. Jamaah tersebut akan langsung di deportasi ke Tanah Air tanpa boleh menunaikan Ibadah Haji walaupun sudah sampai di Jeddah.

Haji Khusus Non Kuota Furoda

Istilah Haji Khusus Furoda sudah tidak asing lagi di kalangan kita. Haji Furoda adalah Haji yang Visa Hajinya diperoleh melalui Undangan dari Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia diluar kuota Visa Haji yang sudah dijatahkan kepada Kementrian Agama RI. Ketika samapai di Imigrasi Jeddah, saat diperiksa visa tersebut sama dengan Visa Haji di seluruh dunia jadi tidak akan dipermasalahkan oleh Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia karena Visa Haji kan yag mengeluarkan adalah pihak Saudi, jadi tidak mungkin dipermasalahkan sendiri.

Hanya saja, karena Visa Haji Furoda ini  didapat langsung dari Saudi tanpa melalui Kementrian Agama RI, maka di mata Kementrian Agama RI itu melanggar aturan di Indonesianya. Dikhawatirkan jamaah tersebut rawan akan penipuan, gagal berangkat akibat travel tersebut gagal memperoleh Visa Furoda, terlantar di Saudi karena factor ketidaksiapan pihak travel dan problem-problem lainnya.

Program Haji Khusus Furoda pada prinsipnya sama dengan Haji Khusus atau Plus di seluruh dunia sama sekali tidak ada bedanya, visanya adalah Visa Haji sama dengan Visa Haji Kementrian Agama RI. Jadi tidak ada masalah mengenai jenis visanya. Hanya Visa Haji Khusus Furoda ini diperoleh bukan dari kuota Kementrian Agama RI melainkan langsung dari Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia.

Jika Visa Haji tersebut sudah diperoleh, maka Pemerintah Saudi akan menerima Jamaah tersebut di Tanah Suci Mekkah tanpa ada pembedaan.

Pendaftaran Haji Program Haji Khusus Furoda merupakan terobosan solusi bagi masyarakat yang akan melaksanakan Ibadah Haji ke Tanah Suci Mekkah tanpa harus antri bertahun-tahun khususnya bagi masyarakat yang sangat ingin segera barhaji karena factor umur, niat nazar dan keinginan yang tidak bisa di bendung lebih lama lagi.

Persiapan teknis lainnya meliputi tiket pesawat Jakarta-Jeddah PP, hotel selama di Mekkah dan Madinah, apartemen selama di Aziziah Arofah, transportasi busw AC, petugas Tour Leader yang mendampingi sejak di Jakarta samapai Saudi, petugas muthawif yang kan membimbing Ibadah Haji selama di Tanah Suci, makan prasmanan 3 kali sehari semua kebutuhan tersebut akan dipersiapkan oleh pihak travel penyelenggara.

Jadi permasalahannya adala pada kesiapan travel  haji non kuota tersebut apakah mampu mempersiapkan segala hal yang diperlukan dengan baik, perhitungan matang, koordinasi yang tepat dan yang paling penting adalah bertanggung jawab penuh dengan program yang dijalankannya.

Untuk itu Kementrian Agama RI mengingatkan agar Muslim Indonesia tak memaksakan diri berangkat ke Tanah Suci, jika belum mendapatkan Porsi. Akibat terlalu memaksakan diri, akhirnya banyak masyarakat yang tertipu oleh biro travel nakal.